Canda Di Rumah Kita, Walau Garing Usahakanlah Tetap Ada! (Belajar Bareng Pak Cah # 1)

Oleh Vida Robi'ah Al-Adawiyah

Tadinya, saya ingin menuliskan resume utuh materi Membangun Keluarga Tangguh yang disampaikan gurunda kami Pak Cahyadi Takariawan ahad lalu (8/11/2020), dengan membedah 6 karakter Strong Family-nya Prof. John Defrain. Tapi nampaknya,  lebih asyik saya menuliskannya pendek-pendek, termasuk menuliskan beberapa jawaban beliau dari beberapa pertanyaan di  forum Zoom tersebut  yang 'menarik' menurut saya.

Tentu bahasa saya yang begini begini aja mungkin tak mewakili ilmu beliau yang begitu luas.

Keluarga tangguh memiliki karakter pertama:  ada apresiasi. Apresiasi bisa saling memberi respon, menyentuh, menanggapi, termasuk ada canda tawa di dalamnya.

Saat rumah tak ada suasana humor, sudah tidak ada lagi canda, tawa, tidak ada saling 'mengapresiasi' kelucuan, saat itulah rumah kita mulai tak punya gembira. Sudah demikian, tangguh darimana?

Saya dibesarkan dari ayah ibu yang lumayan jenaka. Sangat bisa mencairkan suasana, bahkan saat abah dan mamah kami terlibat 'ketegangan' khas para orangtua, salah satu bisa mencairkannya dengan canda. Bukan selalu lucu, tapi memang memiliki canda canda spontan.

Keluarga besar kami semacam punya 'family folk' yang selalu kami rindukan. Kelucuan-kelucuan spontan berupa ekspresi, logat bicara, gesture yang hampir mirip. Hingga saya, adik-adik, mashi-mashi (bulik, tante) bisa melihat sisi lucu sesuatu yang mungkin bagi orang lain atau keluarga lain nggak lucu lucu amat.

"Kok isoh sih ngono wae ngguyu?" (Kok bisa sih, begitu saja tertawa).

Pernahkah Anda dan pasangan saling mengatakan itu? Bisa jadi karena kita tak terlalu sering merespon candaan pasangan atau anak-anak, maka kita merasa biasa aja saat tak bisa bergembira ria. 

Saya teringat usaha seorang teman yang mengirimkan WA lucu walau garing pada pasangannya dan responnya: iih garing! Emoticon sinis.

Hmm... sebenarnya  akan lebih bijak jika si pasangan  berusaha membalas dengan, misalnya, "usaha humor yang baguus," lalu emoticonnya 🤭🤭 atau 😅😅😊😊. Setidaknya itu melegakan meskipun guyonannya garing.

Guyonan, candaan adalah apresiasi paling sederhana dalam rumah-rumah kita dan itu dibolehkan, asal tidak berlebihan dan melecehkan. Bahkan... mencandai istri termasuk 'kegiatan sia-sia'  seperti senda gurau yang diperbolehkan oleh Rasulullah


كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ فَهُوَ لَغْوٌ وَلَهْوٌ إِلَّا أَرْبَعَةَ خِصَالٍ : مَشْيٌ بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ ، وَتَأْدِيبُهُ فَرَسَهُ ، وَمُلَاعَبَتُهُ أَهْلَهُ ، وَتَعْلِيمُ السَّبَّاحَةِ

“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak terdapat dzikrullah (mengingat kepada Allah) merupakan perbuatan sia-sia, seperti senda gurau, dan permainan. Kecuali empat hal yaitu senda gurau suami-istri, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” 

So... jadilah pasangan yang 'playfull', nggak kaku kaya kanebo 😆😆 dan punya sense of humor. Gimana kalau wagu dan garing? Nggak papa! Kegaringan dan kewaguan itulah kadang jadi sumber tawa dan gembira. Yuk, kita coba!


Subscribe to receive free email updates: