Perempuan Cantik Ini Rela Dinikahi Lelaki Buruk, Kasar, Miskin. Mengapa?


Rumah kecil itu berada di tengah padang pasir. Sangat sederhana, bertolak belakang dengan kemewahan rumah para pejabat di Baghdad. Namun begitu, Al-A’masi, salah seorang menteri di pemerintahan Khalifah Harun al Rasyid merasa lega menemukan rumah itu. Setidaknya, dia bisa melepas rasa haus dengan meminta air minum kepada pemilik rumah, karena bekal minumnya telah habis. 

Sang menteri mengucapkan salam. Alangkah kagetnya dia ketika dari dalam rumah keluar seorang perempuan berparas sangat cantik. Di rumah kecil tengah padang pasir begini, ada sosok yang  lebih pantas menghuni istana raja? Sang menteri tertegun sejenak.

“Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan itu.
“Saya ingin meminta air minum, bisakah Anda memberikan kepada saya?”
Perempuan itu menggeleng sopan. “Maaf, suami saya tidak memperbolehkan saya memberikan air minum kepada orang asing. Tetapi, jika Anda berkenan, saya masih memiliki sisa air minum jatah saya. Maukah Anda meminumnya?”

Al-A’masi mengangguk setuju. Dia pun meminum sisa air minum perempuan jelita itu dengan penuh rasa syukur.

Pada saat itu, dari kejauhan datang seorang lelaki menunggang unta. Lelaki yang buruk rupa dan hitam, sangat bertolak belakang dengan sosok perempuan itu. Begitu melihatnya, si perempuan langsung berlari dan menyambut dengan penuh hormat. Bukannya merasa senang, si lelaki itu justru memaki-maki perempuan itu di depan Al-A’masi dengan bahasa kasar. Lalu, sembari terus menggerutu, lelaki itu masuk ke dalam rumah.

“Siapakah dia?” tanya Sang Menteri.
“Dia suami saya.”
Apa? Sang Menteri tersentak. “Maaf, bagaimana mungkin Anda bisa memiliki suami seperti itu? Sedangkan Anda adalah seorang perempuan yang shalihah dan sangat cantik?”

Mendengar pertanyaan tersebut, sang perempuan mendadak marah.

“Ketahuilah, iman itu separuhnya syukur dan separuhnya adalah sabar. Aku bersyukur karena Allah membimbingku dengan Islam dan memberiku kecantikan. Dan kini aku belajar bersabar dengan suami seperti yang engkau sebutkan.”

Sang menteri pun terpana mendengar jawaban perempuan tersebut. Sejenak dia merenung, dan akhirnya memohon pamit dengan hati yang sangat terkesan.
Benar-benar sosok perempuan yang luar biasa.

Subscribe to receive free email updates: